- BERANDA
- PUISI TH. 1896 -1914 ▼
- SONETA KARYA YOGI (1896)
- KARYA RUSTAM EFFENDI (1902)
- KARYA M. YAMIN (1903)
- SONETA KARYA SANUSI PANE (1905)
- KARYA J. E. TATENGKE (1907)
- KARYA ST. ALISYAHBANA (1908)
- KARYA AM DG MIJALA (1909)
- KARYA AMIR HAMZAH (1911)
- KARYA AOH K. HADIMADJA (1911)
- KARYA INTOYO (1912)
- KARYA MOZASA (1913)
- KARYA OR. MANDANK (1913)
- KARYA ASMARA HADI (1914)
- PUISI TH. 1915 -1929 ▼
- KARYA HAMIDAH (1915)
- KARYA TASLIM ALI (1916)
- KARYA TRISNO SUMARDJO (1916)
- KARYA SAMADI (1918)
- KARYA BAHRUM RANGKUTI (1919)
- KARYA M. RUSTANDI KARTAKUSUMA (1921)
- KARYA UMAR ISMAIL (1921)
- KARYA ANAS MA'RUF (1922)
- KARYA CHAIRIL ANWAR (1922)
- KARYA M.BALFAS (1922)
- KARYA L. WALUJATI HATMOHARSOYO (1924)
- KARYA KARYA RAMADHAN K.H. (1927)
- KARYA PIEK ARDIJANTO S. (1929)
- PUISI TH. 1930-1936 ▼
- KARYA FRIDOLIN UKUR (1930)
- KARYA HARIJADI S, HARTOWARDOJO (1930)
- KARYA HARTONO ANDANGDJAJA (1930)
- KARYA KIRDJO MULJO (1930)
- KARYA MANSUR SAMIN (1930)
- KARYA SAMIATI ALI SYAHBANA (1930)
- KARYA SITI NUR'AINI (1931)
- KARYA M. ARDAN (1932)
- KARYA SUGIARTA SRIWIBAWA (1932)
- KARYA HOEDI SUJANTO (1936)
- KARYA SURACHMAN R.M. (1936)
- KARYA M. SARIBI AFN (1936)
- KARYA WAHID SITUMEANG (1936)
- PUISI TH.1937-1940 ▼
- KARYA HERMAN K.S. (1937)
- KARYA L.K. ARA (1957)
- KARYA RIDWAN SIREGAR (1937)
- KARYA MOTINGG0 BUSYE. (1937)
- KARYA APIP MUSTOFA. (1938)
- KARYA AJIP ROSIDI (1938)
- KARYA HUSAIN LADITJING (1938)
- KARYA LEON AGUSTA (1938)
- KARYA SAINI KM (1938)
- KARYA AYAT ROHAEDI (1939)
- KARYA RACHMAT DJOKO PRADOPO (1939)
- KARYA SANDY TYAS (1939)
- KARYA DIAH HADANING (1940)
- KARYA SAPARDI DJOKO DARMONO (1940)
- PUISI TH.1941-1943 ▼
- KARYA BAKDI SUMANTO (1941)
- KARYA M. LA ODE PESU AFTARUDIN (1941)
- KARYA SYU'BAH ASA (1941)
- FRANS NADJIRA (1942)
- DAELAN MUHAMMAD (1942)
- RUSLI A. MALEM (1942)
- ANDI DAENG RIO RIOLO (1943)
- ASPAR. (1943)
- DJASWATIN HASUGIAN (1943)
- DJAJANTO SUPRA (1943)
- KARYA IKRA NEGARA (1943)
- KARYA KUNTOWIDJOJO (1943)
- KARYA UMBU LANDU PARANGGI (1943)
- PUISI TH.1945-1951 ▼
- KARYA KARNO KARTADIBRATA (1945)
- KARYA MOCHTAR PABOTINGGI (1945)
- KARYA IWAN FRIDOLIN (1946)
- KARYA KUSNIN ASA (1946)
- KARYA NGURAH PARSUA (1946)
- KARYA MALAM FAISAL BARAS (1947)
- KARYA HAMID JABAR (1949)
- KARYA AGNES ARSWENDO (1950)
- KARYA F. RAHARDI (1950)
- KARYA BAMBANG DARTO (1950)
- KARYA MAGHFUR AAN (1950)
- KARYA SURIPTO HARSAH (1951)
- KARYA RUSLI A. PURMA (1951)
Kumpulan dari beragam jenis puisi, lama maupun baru
- PUISI TH.1953-1959▼
- KARYA SLAMET KUNTOHADITOMO (1953)
- KARYA ANIS (1954)
- KARYA ARI BASUKI (1954)
- KARYA SAUT SITOMPUL (1955)
- KARYA B. JUNIARSO RIDWAN (1955)
- KARYA EKA BUDIANTA (1956)
- KARYA PUDWIANTO ARISANTO (1956)
- KARYA SUMINTO A. SAYUTHI (1956)
- KARYA AFRIAL MAINA (1957)
- KARYA WAHYU PRASETYA (1957)
- KARYA AHMADUN Y. HERFANDA (1958)
- KARYA DIMAS ARIKA MIHARDJA (1959)
- PUISI TH.1960-1962▼
- KARYA BAMBANG SURYANTO (1960)
- KARYA ASEP ZAMZAM NOOR (1960)
- BAMBANG SURYANTO (1960)
- OMNI S. KOESNADI (1960)
- KARYA SIRIKIT SYAH (1960)
- KARYA NANA ERNAWATI (1961)
- KARYA SUNARDIAN WIRODONO (1961)
- KARYA TRI ASTOKO KODARIE (1961)
- KARYA VIDDY AD (1961)
- KARYA IDA AYU GALUH PETAK (1962)
- KARYA MEIDY LOEKITO (1962)
- KARYA P.H. JOKO PINURBO (1962)
- PUISI TH.1963-1972▼
- PUISI TH.19XX▼
- DAFTAR ISI BLOG
- SELOKA
- ABOUTH ME▼
- INDEK PENGARANG
Home » Posts filed under Sajak
Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts
22 Nov 2015
BEDUGUL
Cemara yang
menyongsong bayangan
Kemuning sunyi, redup
diderai angin
Temaram meru terkatup
kabut, terkatup dingin
Hujan lagi gerimis
mengigil di sini
Semua bebas dalam
dekapan hari
Kan bersua dalam
rumah batu sejati
Keristal sepi angin
meluluhkan bayangan
Kemuning sunyi danau
lenggang tenang
BANYAK ORANG MENANGIS
Banyak orang
menangis, kekasih, banyak orang
Menangis sepanjang gang sepanjang hari-hari
Mengais seperti ayam, di matamu, banyak orang
Mengalir sepanjang lambai sepanjang sangsai
Menangis sepanjang gang sepanjang hari-hari
Mengais seperti ayam, di matamu, banyak orang
Mengalir sepanjang lambai sepanjang sangsai
Meleleh di pipimu,
kekasih, di pipimu sayang
Banyak orang dalam
tangis rasa-tak-sampai
Membadai
Badai orang begitu
perih menangis sepanjang gang
PERPISAHAN
Kami berderet di
stasiun bis kecil itu
Mengantar kepergian
mereka: bayangan-bayangan itu
Yang tak pernah kami
tahu
Kami tak sempat
bersalam-salaman
Atau mengucapkan
kata-kata perpisahan
Kami diam merekapun
diam
Dan taksi itu dengan
biasa meluncur kian jauh
Lalu tak kami lihat
lagi
SAJAK DARI LAUT
Laut bergelombang
buas
Tapi lebih buas hati
manusia
Hari demi hari
Meruntuhkan alam
manusiawi kami
Dan ombak berbisik
Menandai lagu nestapa
Bintang yang jauh
Menghancurkan cinta
kami
PERCAKAPAN ZAMAN
Hati rumput yang
sedang menatap langit
Terkesima percakapan
bintang tentang cinta kanak-kanak
Hidup ini selalu
berada dalam lingkaran tebing tak bertepi
Yang pantulkan gaung
berulang kali
Ibu matahari,
ajarilah aku memahami guratan langit
Lukisan perjalanan
panjang ke negri jauh
Lalu ibu matahari
mengajarinya dengan menuangkan
Periuk waktu
AKU BACA
Aku baca seratus sajak bunga abrikos
Aku baca kitab kematian dalam sejarah umat
Aku baca duka perempuan waktu malam hari
Aku baca malaikat dan bibir para nabi
Dan aku baca, baca, kau, apa yang tersirat
Dalam sepasang mataku
Dan sepasang sepatu tuaku
Akan kau baca cerita nenek masa kecilku
HUJAN DI PAGI HARI
Hujan di pagi hari
mengheningkan sepi
Hendak kutulis surat
kepadanya
Sosok bayang terlena
dari lampu dan mentari
Detik-detik yang
surut ke jamnya
Oh, pedih sekali;
menyaksikan seluruh peristiwa
Dengan mata terkatup.
Dan wajah merekah
Darah menyimbah
sekujur tubuh
Dan engkau yang asyik
menyanyi
HUSNUL KHOTIMAH
Perempuan yang merobek pernyataan cinta
Memperkosa perasaan yang timbul pada pejam mata
Pada pemunculan yang tolol di depan umum
Lelaki mana bakal menguras genangan air pada
wajahnya
Perempuan yang memberontak pada penciptaan
Meletakkan kepercayaannya di atas meja
Bersama piring dan makanan kering
Lelaki mana bakal datang menggebrak meja
PENGEMATAN 4
‘Bismillah!’, ucapmu
Dan picu-picu senapan kau tarik
Dari tubuh-tubuh tersungkur di depanmu
‘OM, OM, OM’, desismu
Dan picu-picu senapan kau tarik
Dari tubuh-tubuh tersungkur di depanmu
‘OM, OM, OM’, desismu
Dan bom-bom kau lemparkan
Dan tubuh-tubuh berkaparan di jalan
‘Astagafirullah!’
‘Yesus Kristus!’
PENGAMATAN 6
Sebuah mimpi buruk
Melintas dalam tidurku
Siapa menyurukkannya di sana
Meninggalkan bekas dalam batinku
Mengotori kebeningan jiwa
Sebuah mimpi buruk
Telah membius berjuta manusia
Yang sebagai pemadat-pemadat
OBSESI 8
Mimpi-mimpi kecil
Mainan batinku
Menyeretku entah ke mana
Aku seperti seekor kucing
Tertipu bola
Yang aku gelindingkan
Dari sia-sia ke sia-sia
Apakah arti pergulatan
MENCARI
Akh, tak jemu-jemu kau,
Meniduri malam tua.
Siang kau berjalan-jalan.
Dan pula tak jemu.
Sepanjang malam berkata-kata.
Tembus langit biru.
Mendengkur dasar bumi.
Menghitung bintang-bintang.
JAKARTA
Kehidupan dua puluh empat jam
Jakarta.
Bagai lari dikejar lapar.
Keringat mengalir. Basah.
Dan matahari siang merentak
Mengejar senja.
Kehidupan dua puluh empat jam
Jakarta.
Bagai merangkak dikejar dahaga.
PUISI, SAJAK, SONETA
Peluh luruh berpacu.
DI BERANDA RUMAH SORE HARI
Bajuku bercerita tentang perselingkuhan suami-istri,
Gara-gara noda lipstik pada kaos dalam; lalu erangan
Jendela sampai terdengar ke pojok-pojok pasar. Di sini,
Rumah tangga jadi kalut karena dililit piutang,
Lalu radio pun menyimpan taman kota yang dipenuhi
Gelandangan
Echa, sambil duduk mempermainkan gigi, dari tetangga
Sebelah tercium ikan asin; orang-orang sibuk
SIMPONI KOTA BESAR
Ada di tengah hiruk pikuk lalu-lintas
Lewat jendela bus kota terpampang wajahmu beringas
Yang perlahan menyusup di lipatan kardus bekas
Di tanganmu tergenggam bangkai unggas
Akulah pewaris bangsa! Ujarmu tandas
Di antara rel kereta api yang membelah kota
Dan lambaian jemuran kain kumal
Kau pandang matahari warna tembaga
SUNGAI KEMUNGKINAN
Seandainya kita ketemu malam ini
Aku tahu, kamu bukan sungai yang dulu.
Di pegunungan kamu jernih, gemericik.
Tapi di kota, bebanmu berat,
Keruh dan aku tak mengenalimu
Mungkin sudah digariskan
Aku sendiri menuju muara
Meskipun mungkin, hanya mungkin
Kita akan berkumpul di samudera.
Subscribe to:
Posts (Atom)




