Home » Posts filed under Sajak
Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts

22 Nov 2015

KATA-KATA

Kenangkanlah gumam pertama
Pertemuan tak terduga
Di suatu kota pantai
Di suatu hari kemarau

Di suatu keasingan rindu
Di suatu perjalanan biru
Kenangkanlah bisikan pertama
Risau pertarungan kembara

SURAT BUAT SEORANG HIPI

Aku tahu, Theresia
Ketika matamu minta cium
Di atas elevator
Ini memang bukan soal moral

Ini soal basa-basi
Maka kaupun kugumul
Di atas ranjang lantai ke lima
Kita terengah
PUISI, SONETA, SAJAK

RANJANG

 Setiap malam betismu
Naik ke tepi ranjang
Menggigit selimut – lalu
Menyuruk di sampingku

Kita pun jadi tidur
Meskipun udara buruk
Di luar terus mengamuk
PUISI, SONETA, SAJAK
Kemudian pagi datang
PUISI, SONETA, SAJAK

DALAM KACA DUKAPUN PUTIH

Dalam kaca duka pun putih
Mainan warna-warna. Seribu sajak
Yang kita tulis dulu
Satu hari sebelum turun gerimis
Lengkung langit. Garis-garis pelangi
Ombak putih lari
Laut yang letih sepanjang hari kita mandi
PUISI, SONETA, SAJAK
Sekali di atas pasir kulukis matahari, tapi

BEDUGUL

Cemara yang menyongsong bayangan
Kemuning sunyi, redup diderai angin
Temaram meru terkatup kabut, terkatup dingin
Hujan lagi gerimis mengigil di sini
Semua bebas dalam dekapan hari
Kan bersua dalam rumah batu sejati
Keristal sepi angin meluluhkan bayangan
Kemuning sunyi danau lenggang tenang

BANYAK ORANG MENANGIS

Banyak orang menangis, kekasih, banyak orang
Menangis sepanjang gang sepanjang hari-hari
Mengais seperti ayam, di matamu, banyak orang
Mengalir sepanjang lambai sepanjang sangsai
Meleleh di pipimu, kekasih, di pipimu sayang
Banyak orang dalam tangis rasa-tak-sampai
Membadai
Badai orang begitu perih menangis sepanjang gang

PERPISAHAN

Kami berderet di stasiun bis kecil itu
Mengantar kepergian mereka: bayangan-bayangan itu
Yang tak pernah kami tahu
Kami tak sempat bersalam-salaman
Atau mengucapkan kata-kata perpisahan
Kami diam merekapun diam
Dan taksi itu dengan biasa meluncur kian jauh
Lalu tak kami lihat lagi

SAJAK DARI LAUT

Laut bergelombang buas
Tapi lebih buas hati manusia
Hari demi hari
Meruntuhkan alam manusiawi kami
Dan ombak berbisik
Menandai lagu nestapa
Bintang yang jauh
Menghancurkan cinta kami

PERCAKAPAN ZAMAN

Hati rumput yang sedang menatap langit

Terkesima percakapan bintang tentang cinta kanak-kanak

Hidup ini selalu berada dalam lingkaran tebing tak bertepi

Yang pantulkan gaung berulang kali

Ibu matahari, ajarilah aku memahami guratan langit

Lukisan perjalanan panjang ke negri jauh

Lalu ibu matahari mengajarinya dengan menuangkan

Periuk waktu

AKU BACA

Aku baca seratus sajak bunga abrikos
Aku baca kitab kematian dalam sejarah umat
Aku baca duka perempuan waktu malam hari
Aku baca malaikat dan bibir para nabi
Dan aku baca, baca, kau, apa yang tersirat
Dalam sepasang mataku
Dan sepasang sepatu tuaku
Akan kau baca cerita nenek masa kecilku

HUJAN DI PAGI HARI

Hujan di pagi hari mengheningkan sepi

Hendak kutulis surat kepadanya

Sosok bayang terlena dari lampu dan mentari

Detik-detik yang surut ke jamnya

Oh, pedih sekali; menyaksikan seluruh peristiwa

Dengan mata terkatup. Dan wajah merekah

Darah menyimbah sekujur tubuh

Dan engkau yang asyik menyanyi

HUSNUL KHOTIMAH

Perempuan yang merobek pernyataan cinta
Memperkosa perasaan yang timbul pada pejam mata
Pada pemunculan yang tolol di depan umum
Lelaki mana bakal menguras genangan air pada wajahnya
Perempuan yang memberontak pada penciptaan
Meletakkan kepercayaannya di atas meja
Bersama piring dan makanan kering
Lelaki mana bakal datang menggebrak meja

PENGEMATAN 4

‘Bismillah!’, ucapmu
Dan picu-picu senapan kau tarik
Dari tubuh-tubuh tersungkur di depanmu
‘OM, OM, OM’, desismu
Dan bom-bom kau lemparkan
Dan tubuh-tubuh berkaparan di jalan
‘Astagafirullah!’
‘Yesus Kristus!’

PENGAMATAN 6

Sebuah mimpi buruk
Melintas dalam tidurku
Siapa menyurukkannya di sana
Meninggalkan bekas dalam batinku
Mengotori kebeningan jiwa
Sebuah mimpi buruk
Telah membius berjuta manusia
Yang sebagai pemadat-pemadat

OBSESI 8

Mimpi-mimpi kecil
Mainan batinku
Menyeretku entah ke mana
Aku seperti seekor kucing
Tertipu bola
Yang aku gelindingkan
Dari sia-sia ke sia-sia
Apakah arti pergulatan

MENCARI

Akh, tak jemu-jemu kau,
Meniduri malam tua.
Siang kau berjalan-jalan.
Dan pula tak jemu.
Sepanjang malam berkata-kata.
Tembus langit biru.
Mendengkur dasar bumi.
Menghitung bintang-bintang.

JAKARTA

Kehidupan dua puluh empat jam Jakarta.
Bagai lari dikejar lapar.
Keringat mengalir. Basah.
Dan matahari siang merentak
Mengejar senja.
Kehidupan dua puluh empat jam Jakarta.
Bagai merangkak dikejar dahaga.
PUISI, SAJAK, SONETA
Peluh luruh berpacu.

DI BERANDA RUMAH SORE HARI

Bajuku bercerita tentang perselingkuhan suami-istri,
Gara-gara noda lipstik pada kaos dalam; lalu erangan
Jendela sampai terdengar ke pojok-pojok pasar. Di sini,
Rumah tangga jadi kalut karena dililit piutang,
Lalu radio pun menyimpan taman kota yang dipenuhi
Gelandangan
Echa, sambil duduk mempermainkan gigi, dari tetangga
Sebelah tercium ikan asin; orang-orang sibuk

SIMPONI KOTA BESAR

Ada di tengah hiruk pikuk lalu-lintas
Lewat jendela bus kota terpampang wajahmu beringas
Yang perlahan menyusup di lipatan kardus bekas
Di tanganmu tergenggam bangkai unggas
Akulah pewaris bangsa! Ujarmu tandas
Di antara rel kereta api yang membelah kota
Dan lambaian jemuran kain kumal
Kau pandang matahari warna tembaga

SUNGAI KEMUNGKINAN

Seandainya kita ketemu malam ini
Aku tahu, kamu bukan sungai yang dulu.
Di pegunungan kamu jernih, gemericik.
Tapi di kota, bebanmu berat,
Keruh dan aku tak mengenalimu 
Mungkin sudah digariskan
Aku sendiri menuju muara
Meskipun mungkin, hanya mungkin
Kita akan berkumpul di samudera.

DAFTAR POSTING