Home » Posts filed under Puisi
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

3 Dec 2015

HAMLET

Yang was-was selalu, itulah aku
Yang gamang selalu, akulah itu
Ya Hamlet kusuka : Dialah gambaran jiwaku
Yang selalu was-was dalam ragu. Membiarkan kau
Mengembara dalam mimpi yang risau
Kutemukan pada Oliver, kegamangan falsafi
Dunia yang muram dan masa depan yang suram
Tapi kulihat kecerahan intelegensi

1 Dec 2015

TERKENANG TOPENG CIREBON

Di atas gunung batu manusia membangun tugu
Kota yang gelisah mencari, Seoul yang baru, perkasa
Dengan etalase kaca, lampu-lampu berwarna, jiwanya ragu
Tak acuh tahu, menggapai-gapai dalam udara hampa
PUISI, SONETA
Kulihat bangsa yang terombang-ambing antara dua dunia
PUISI, SONETA
Bagaikan tercermin diriku sendiri di sana!
PUISI, SONETA
Mengejar-ngejar gairah bayangan hari esok
PUISI, SONETA
Memimpikan masa-silam yang terasa kian lama kian elok!
PUISI, SONETA

PELABUHAN

Mengapa tinggal tubuh kapal yang membatu
Di sini, sementara
Kuli-kuli berdaki bergerak bersama laut
Riuh disibuki sejuta kerja

PUISI, SONETA
Serta panas siang yang dilupakan
PUISI, SONETA
Demikianlah,
PUISI, SONETA
Memunggah atau membongkar
PUISI, SONETA
Jiwa keras kan mengombang, angin kering
PUISI, SONETA

30 Nov 2015

DI ENGKELI, SUATU PAGI

Empat lelaki menyusur pinggir kali
Nasibnya mengalir bersama air menghilir
Di mana mereka bertemu ?
Ke mana mereka kan pergi ?

PUISI, SONETA
Dalam hati yang mengerti
PUISI, SONETA
Menuju ufuk kelabu
PUISI, SONETA
Di kuala terbuka
PUISI, SONETA
Pabila mereka berangkat
PUISI, SONETA

SONETA DARI MANHATTAN

Di bawah bayang-bayang Manhattan yang gelap
Kulihat kau menyelinap, mengendap-ngendap
Mengais-ngais mencari dalam dirimu:
Sesuatu telah terjadi dan itu engkau tak tahu
PUISI, SONETA
Begitu banyak peristiwa dan begitu banyak rahasia
PUISI, SONETA
Yang dalam hidupmu hanya nampak satu segi saja
PUISI, SONETA
Tidaklah hidup ini bagimu akan tetap gulita
PUISI, SONETA
Bagaikan teka-teki yang hilang soalnya
PUISI, SONETA

KEPADA KAWAN 12

Apa sih yang mau kau capai
Maka kau terjang segala penghalang
Dan kau abaikan segala nilai
Asal kau sendiri menang?
PUISI, SONETA
Apa sih yang mau kau dapat
PUISI, SONETA
Maka kau tinggalkan semua sahabat
PUISI, SONETA
Dan di sekelilingmu
PUISI, SONETA
Kau anyam rapat pagar curiga
PUISI, SONETA

PERUMPAMAAN

Di antara belalang
Kaulah burung brenjang
Yang mengisi tembolok
Tak kunjung kenyang

PUISI, SONETA
Di antara ayam
PUISI, SONETA
Kaulah musang kelaparan
PUISI, SONETA
Dengan rahang tajam
PUISI, SONETA
Menerkam dan menerkam
PUISI, SONETA

22 Nov 2015

KATA-KATA

Kenangkanlah gumam pertama
Pertemuan tak terduga
Di suatu kota pantai
Di suatu hari kemarau

Di suatu keasingan rindu
Di suatu perjalanan biru
Kenangkanlah bisikan pertama
Risau pertarungan kembara

SURAT BUAT SEORANG HIPI

Aku tahu, Theresia
Ketika matamu minta cium
Di atas elevator
Ini memang bukan soal moral

Ini soal basa-basi
Maka kaupun kugumul
Di atas ranjang lantai ke lima
Kita terengah
PUISI, SONETA, SAJAK

RANJANG

 Setiap malam betismu
Naik ke tepi ranjang
Menggigit selimut – lalu
Menyuruk di sampingku

Kita pun jadi tidur
Meskipun udara buruk
Di luar terus mengamuk
PUISI, SONETA, SAJAK
Kemudian pagi datang
PUISI, SONETA, SAJAK

DALAM KACA DUKAPUN PUTIH

Dalam kaca duka pun putih
Mainan warna-warna. Seribu sajak
Yang kita tulis dulu
Satu hari sebelum turun gerimis
Lengkung langit. Garis-garis pelangi
Ombak putih lari
Laut yang letih sepanjang hari kita mandi
PUISI, SONETA, SAJAK
Sekali di atas pasir kulukis matahari, tapi

BEDUGUL

Cemara yang menyongsong bayangan
Kemuning sunyi, redup diderai angin
Temaram meru terkatup kabut, terkatup dingin
Hujan lagi gerimis mengigil di sini
Semua bebas dalam dekapan hari
Kan bersua dalam rumah batu sejati
Keristal sepi angin meluluhkan bayangan
Kemuning sunyi danau lenggang tenang

BANYAK ORANG MENANGIS

Banyak orang menangis, kekasih, banyak orang
Menangis sepanjang gang sepanjang hari-hari
Mengais seperti ayam, di matamu, banyak orang
Mengalir sepanjang lambai sepanjang sangsai
Meleleh di pipimu, kekasih, di pipimu sayang
Banyak orang dalam tangis rasa-tak-sampai
Membadai
Badai orang begitu perih menangis sepanjang gang

PERPISAHAN

Kami berderet di stasiun bis kecil itu
Mengantar kepergian mereka: bayangan-bayangan itu
Yang tak pernah kami tahu
Kami tak sempat bersalam-salaman
Atau mengucapkan kata-kata perpisahan
Kami diam merekapun diam
Dan taksi itu dengan biasa meluncur kian jauh
Lalu tak kami lihat lagi

SAJAK DARI LAUT

Laut bergelombang buas
Tapi lebih buas hati manusia
Hari demi hari
Meruntuhkan alam manusiawi kami
Dan ombak berbisik
Menandai lagu nestapa
Bintang yang jauh
Menghancurkan cinta kami

PERCAKAPAN ZAMAN

Hati rumput yang sedang menatap langit

Terkesima percakapan bintang tentang cinta kanak-kanak

Hidup ini selalu berada dalam lingkaran tebing tak bertepi

Yang pantulkan gaung berulang kali

Ibu matahari, ajarilah aku memahami guratan langit

Lukisan perjalanan panjang ke negri jauh

Lalu ibu matahari mengajarinya dengan menuangkan

Periuk waktu

AKU BACA

Aku baca seratus sajak bunga abrikos
Aku baca kitab kematian dalam sejarah umat
Aku baca duka perempuan waktu malam hari
Aku baca malaikat dan bibir para nabi
Dan aku baca, baca, kau, apa yang tersirat
Dalam sepasang mataku
Dan sepasang sepatu tuaku
Akan kau baca cerita nenek masa kecilku

HUJAN DI PAGI HARI

Hujan di pagi hari mengheningkan sepi

Hendak kutulis surat kepadanya

Sosok bayang terlena dari lampu dan mentari

Detik-detik yang surut ke jamnya

Oh, pedih sekali; menyaksikan seluruh peristiwa

Dengan mata terkatup. Dan wajah merekah

Darah menyimbah sekujur tubuh

Dan engkau yang asyik menyanyi

HUSNUL KHOTIMAH

Perempuan yang merobek pernyataan cinta
Memperkosa perasaan yang timbul pada pejam mata
Pada pemunculan yang tolol di depan umum
Lelaki mana bakal menguras genangan air pada wajahnya
Perempuan yang memberontak pada penciptaan
Meletakkan kepercayaannya di atas meja
Bersama piring dan makanan kering
Lelaki mana bakal datang menggebrak meja

PENGEMATAN 4

‘Bismillah!’, ucapmu
Dan picu-picu senapan kau tarik
Dari tubuh-tubuh tersungkur di depanmu
‘OM, OM, OM’, desismu
Dan bom-bom kau lemparkan
Dan tubuh-tubuh berkaparan di jalan
‘Astagafirullah!’
‘Yesus Kristus!’

DAFTAR POSTING